Ketika banyak pihak masih berwacana dan bereksperimen mengenai bahan bakar nabati untuk konsumsi masyarakat umum, Soekaeni sudah selangkah lebih maju. Pensiunan pegawai sebuah badan usaha milik negara itu sudah memproduksinya secara massal. Pemilik kendaraan bermotor dan ibu rumah tangga kini memiliki alternatif bahan bakar yang baru.
Saya terusik ketika pada tahun 2004-2005, investor asing berencana menjadikan 750.000 hektar lahan di Lampung sebagai perkebunan singkong. Mau apa mereka dengan perkebunan singkong seluas itu, sementara di rumah saya singkong hanya bisa menjadi getuk,” ujar Soekaeni.
Getuk adalah makanan pedesaan Jawa yang berasal dari parutan singkong yang dikukus. Setelah secara intensif mengikuti perkembangan berita mengenai rencana investasi pada perkebunan singkong itu, Soekaeni baru tahu bahwa investor itu akan menggunakan singkong sebagai bahan dasar membuat bahan bakar nabati.
Tahun 2002, ketika masih bekerja di sebuah BUMN, Soekaeni sudah mulai mengembangkan perkebunan singkong di Kampung Warung Ceuri, Desa Nyangkowek, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Di lahan 7 hektar, ia mengembangkan perkebunan singkong dengan pola intensif.
”Saya memilih menggunakan pupuk organik karena pupuk pabrik ternyata membuat tanah bantat dan makin tak subur,” katanya. Pupuk itu dibuat sendiri dengan formula yang dirahasiakan, tetapi sama sekali tak menggunakan bahan kimia.
Intensif
Dengan pola intensif itu, produktivitas lahan bisa mencapai 100 ton per hektar dengan masa panen hanya 7 bulan. Di lahan milik petani, produktivitasnya paling-paling hanya 60 ton per hektar karena tidak dipupuk dan masa panen bisa mencapai 11 bulan. Hingga tahun 2004, Soekaeni menjual singkong dari lahannya ke pabrik tapioka dan pabrik ceriping singkong.
Karena tingginya produktivitas singkong itu, Soekaeni sering diundang ke berbagai pameran produk dan teknologi pertanian. ”Namun, dari pameran-pameran itu saya tak mendapat apa-apa. Selalu orang lain yang untung,” katanya.
Setelah pensiun pada tahun 2005, Soekaeni membulatkan tekad untuk menekuni pengolahan singkong menjadi bahan bakar terbarukan. ”Saat itu, saya sama sekali tidak tahu caranya. Saya kemudian mengumpulkan semua pemberitaan mengenai bio-etanol. Dari situ saya baru tahu, supaya tak hanya menjadi getuk, ternyata parutan singkong harus ditambah enzim alpha amilase,” kata sarjana ekonomi tersebut.
Bekal dari kliping berita ternyata belum memenuhi keingintahuan Soekaeni untuk membuat etanol dari singkong. Dia lalu memberanikan diri bertanya kepada seorang pakar dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Dari pakar itu, Soekaeni mengerti bagaimana cara membuat singkong menjadi bahan bakar.
Proses rumit
Proses perubahan bentuk dari singkong padat menjadi cairan etanol ternyata rumit. Namun, Soekaeni yang tak memiliki dasar pengetahuan ilmu kimia itu cepat tanggap. ”Itu karena saya memiliki keinginan besar untuk belajar,” katanya. Dari hasil uji coba selama 6 bulan, Soekaeni berhasil membuat singkong padat menjadi etanol.
Pertama-tama, singkong diparut dan direbus dalam campuran enzim alpha amilase. Setelah direbus, campuran itu difermentasi dengan cara diberi ragi selama tiga hari. Bahan itu diuapkan untuk memisahkan parutan singkong dan cairan rebusan yang bercampur dengan enzim. Soekaeni mendapat kesulitan dalam proses penguapan atau destilasi.
”Yang saya uapkan itu masih campuran antara air dan alkohol,” katanya. Titik didih air dan alkohol berbeda. Air mendidih pada 100 derajat Celsius, sementara alkohol sudah mendidih pada 70-80 derajat Celsius. ”Uap pada suhu 70-80 derajat Celsius adalah uap alkohol, jadi bisa saya pisahkan,” ujarnya.
Berdasarkan uji coba itu, Soekaeni kemudian mendirikan pabrik yang total asetnya sekitar Rp 1 miliar dari bekal menabung dan uang pesangonnya. Kini, pabrik pengolahan singkong menjadi etanol milik Soekaeni itu sudah menghasilkan 200 liter etanol per hari. Beberapa bulan ke depan, produksinya akan dinaikkan menjadi 1.000 liter karena sekarang sedang dilakukan pengembangan pabrik.
Campuran premium
Etanol hasil produksi Soekaeni dengan kadar 90 persen sampai 95 persen dijual dengan harga Rp 8.500 per liter, bisa digunakan untuk pengganti minyak tanah. Adapun etanol kadar 95 persen hingga 100 persen dijual Rp 10.000 untuk campuran premium. Kok mahal? Memang benar, tetapi daur pembakarannya jauh lebih panjang daripada minyak tanah dan pertamax.
Satu liter minyak tanah biasanya hanya cukup untuk bahan bakar kompor selama dua jam berturut-turut, sedangkan etanol 90 persen hingga 95 persen bisa menghidupkan kompor selama 15 jam berturut-turut. Etanol kadar 100 persen bisa digunakan sebagai campuran premium dengan perbandingan sembilan liter premium dengan campuran satu liter etanol atau 9:1. Bahan bakar campuran ini menghasilkan oktan yang lebih tinggi dibandingkan pertamax. Dengan harga pertamax kini Rp 10.300 per liter, harga 10 liter pertamaks sudah Rp 103.000. Sementara itu, campuran 9:1 premium dan etanol hanya Rp 70.000.
Hanya Dimanfaatkan
Jika tak dongkol dimanfaatkan oleh broker-broker pameran, Soekaeni tak akan belajar bagaimana membuat singkong menjadi etanol. Ceritanya, ketika varietas singkong yang dikembangkannya terbukti unggul dibandingkan dengan varietas lainnya, banyak orang sangat tertarik. Soekaeni kemudian diundang untuk memamerkan singkong varietas unggul itu di beberapa kota.
”Janjinya, kalau ada investor yang tertarik membuka perkebunan singkong, saya akan menjadi pemasok bibitnya. Namun, selama dua tahun berpameran dan bertemu banyak calon investor, tak ada hasilnya sama sekali. Bibit saya dipakai, tetapi saya tak bisa jadi pemasok,” kata Soekaeni menggambarkan kekecewaannya.
Berangkat dari rasa kecewa karena terus-menerus dimanfaatkan, Soekaeni akhirnya berupaya sendiri memanfaatkan singkong varietas unggul yang dikembangkannya. Singkong varietas unggul yang dikembangkannya sebenarnya sudah terserap habis ke pabrik pembuatan tapioka dan pabrik ceriping singkong. Namun, Soekaeni tak puas dengan pencapaian itu, dan dia menjatuhkan pilihan pada pembuatan bio-etanol. (aha)
BIODATASaya terusik ketika pada tahun 2004-2005, investor asing berencana menjadikan 750.000 hektar lahan di Lampung sebagai perkebunan singkong. Mau apa mereka dengan perkebunan singkong seluas itu, sementara di rumah saya singkong hanya bisa menjadi getuk,” ujar Soekaeni.
Getuk adalah makanan pedesaan Jawa yang berasal dari parutan singkong yang dikukus. Setelah secara intensif mengikuti perkembangan berita mengenai rencana investasi pada perkebunan singkong itu, Soekaeni baru tahu bahwa investor itu akan menggunakan singkong sebagai bahan dasar membuat bahan bakar nabati.
Tahun 2002, ketika masih bekerja di sebuah BUMN, Soekaeni sudah mulai mengembangkan perkebunan singkong di Kampung Warung Ceuri, Desa Nyangkowek, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Di lahan 7 hektar, ia mengembangkan perkebunan singkong dengan pola intensif.
”Saya memilih menggunakan pupuk organik karena pupuk pabrik ternyata membuat tanah bantat dan makin tak subur,” katanya. Pupuk itu dibuat sendiri dengan formula yang dirahasiakan, tetapi sama sekali tak menggunakan bahan kimia.
Intensif
Dengan pola intensif itu, produktivitas lahan bisa mencapai 100 ton per hektar dengan masa panen hanya 7 bulan. Di lahan milik petani, produktivitasnya paling-paling hanya 60 ton per hektar karena tidak dipupuk dan masa panen bisa mencapai 11 bulan. Hingga tahun 2004, Soekaeni menjual singkong dari lahannya ke pabrik tapioka dan pabrik ceriping singkong.
Karena tingginya produktivitas singkong itu, Soekaeni sering diundang ke berbagai pameran produk dan teknologi pertanian. ”Namun, dari pameran-pameran itu saya tak mendapat apa-apa. Selalu orang lain yang untung,” katanya.
Setelah pensiun pada tahun 2005, Soekaeni membulatkan tekad untuk menekuni pengolahan singkong menjadi bahan bakar terbarukan. ”Saat itu, saya sama sekali tidak tahu caranya. Saya kemudian mengumpulkan semua pemberitaan mengenai bio-etanol. Dari situ saya baru tahu, supaya tak hanya menjadi getuk, ternyata parutan singkong harus ditambah enzim alpha amilase,” kata sarjana ekonomi tersebut.
Bekal dari kliping berita ternyata belum memenuhi keingintahuan Soekaeni untuk membuat etanol dari singkong. Dia lalu memberanikan diri bertanya kepada seorang pakar dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Dari pakar itu, Soekaeni mengerti bagaimana cara membuat singkong menjadi bahan bakar.
Proses rumit
Proses perubahan bentuk dari singkong padat menjadi cairan etanol ternyata rumit. Namun, Soekaeni yang tak memiliki dasar pengetahuan ilmu kimia itu cepat tanggap. ”Itu karena saya memiliki keinginan besar untuk belajar,” katanya. Dari hasil uji coba selama 6 bulan, Soekaeni berhasil membuat singkong padat menjadi etanol.
Pertama-tama, singkong diparut dan direbus dalam campuran enzim alpha amilase. Setelah direbus, campuran itu difermentasi dengan cara diberi ragi selama tiga hari. Bahan itu diuapkan untuk memisahkan parutan singkong dan cairan rebusan yang bercampur dengan enzim. Soekaeni mendapat kesulitan dalam proses penguapan atau destilasi.
”Yang saya uapkan itu masih campuran antara air dan alkohol,” katanya. Titik didih air dan alkohol berbeda. Air mendidih pada 100 derajat Celsius, sementara alkohol sudah mendidih pada 70-80 derajat Celsius. ”Uap pada suhu 70-80 derajat Celsius adalah uap alkohol, jadi bisa saya pisahkan,” ujarnya.
Berdasarkan uji coba itu, Soekaeni kemudian mendirikan pabrik yang total asetnya sekitar Rp 1 miliar dari bekal menabung dan uang pesangonnya. Kini, pabrik pengolahan singkong menjadi etanol milik Soekaeni itu sudah menghasilkan 200 liter etanol per hari. Beberapa bulan ke depan, produksinya akan dinaikkan menjadi 1.000 liter karena sekarang sedang dilakukan pengembangan pabrik.
Campuran premium
Etanol hasil produksi Soekaeni dengan kadar 90 persen sampai 95 persen dijual dengan harga Rp 8.500 per liter, bisa digunakan untuk pengganti minyak tanah. Adapun etanol kadar 95 persen hingga 100 persen dijual Rp 10.000 untuk campuran premium. Kok mahal? Memang benar, tetapi daur pembakarannya jauh lebih panjang daripada minyak tanah dan pertamax.
Satu liter minyak tanah biasanya hanya cukup untuk bahan bakar kompor selama dua jam berturut-turut, sedangkan etanol 90 persen hingga 95 persen bisa menghidupkan kompor selama 15 jam berturut-turut. Etanol kadar 100 persen bisa digunakan sebagai campuran premium dengan perbandingan sembilan liter premium dengan campuran satu liter etanol atau 9:1. Bahan bakar campuran ini menghasilkan oktan yang lebih tinggi dibandingkan pertamax. Dengan harga pertamax kini Rp 10.300 per liter, harga 10 liter pertamaks sudah Rp 103.000. Sementara itu, campuran 9:1 premium dan etanol hanya Rp 70.000.
Hanya Dimanfaatkan
Jika tak dongkol dimanfaatkan oleh broker-broker pameran, Soekaeni tak akan belajar bagaimana membuat singkong menjadi etanol. Ceritanya, ketika varietas singkong yang dikembangkannya terbukti unggul dibandingkan dengan varietas lainnya, banyak orang sangat tertarik. Soekaeni kemudian diundang untuk memamerkan singkong varietas unggul itu di beberapa kota.
”Janjinya, kalau ada investor yang tertarik membuka perkebunan singkong, saya akan menjadi pemasok bibitnya. Namun, selama dua tahun berpameran dan bertemu banyak calon investor, tak ada hasilnya sama sekali. Bibit saya dipakai, tetapi saya tak bisa jadi pemasok,” kata Soekaeni menggambarkan kekecewaannya.
Berangkat dari rasa kecewa karena terus-menerus dimanfaatkan, Soekaeni akhirnya berupaya sendiri memanfaatkan singkong varietas unggul yang dikembangkannya. Singkong varietas unggul yang dikembangkannya sebenarnya sudah terserap habis ke pabrik pembuatan tapioka dan pabrik ceriping singkong. Namun, Soekaeni tak puas dengan pencapaian itu, dan dia menjatuhkan pilihan pada pembuatan bio-etanol. (aha)
Nama: Soekaeni
Tempat, tanggal lahir: Semarang, 6 September 1950
Istri: Sri Hartati (almarhum)
Anak: 1. Daniel Andang Widiananta (34) 2. Ester Widi Andandangsari (31) 3. Elly Kurnia Andangratri (29) 4. Ruth Laurita Andanglestari (28)
Pendidikan:
1.SD Masehi Poncol, lulus tahun 1962
2. SMP Masehi Poncol, lulus tahun 1965
3. SMAN 3 Semarang, lulus tahun 1968
4. Pendidikan Telkom selama dua tahun, lulus tahun 1975
5. Universitas Terbuka di Medan, lulus tahun 2003
Pekerjaan:
1. Manajer Marketing PT Telkom Cabang Jakarta Barat, pensiun 2005.
2. Presiden Direktur PT Panca Jaya Raharja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar