Purwanto (34) barangkali termasuk perajin perak yang unik di Kotagede. Pertama, usaha peraknya itu bukan karena warisan orangtua. Kedua, latar belakang laki-laki ini adalah tukang las listrik. Lho, kok bisa nyambung menjadi tukang perak? Ternyata, ceritanya berliku sebelum ia sampai pada keadaan sekarang yang bisa membuka dua toko perak di Kotagede bernama YK Silver 925. Ia juga tak menyangka bahwa dari usaha nekatnya, kini dapat memberi nafkah tujuh karyawan. Ia menghabiskan masa studi hingga bangku SMP di tanah kelahirannya, Kebumen. Sesudahnya, dia ikut ayahnya merantau ke Lampung, Sumatera.
Purwanto melanjutkan sekolah ke salah satu sekolah teknik menengah (STM). Bapak membuka bengkel las, katanya. Kondisi perekonomian yang tidak berkecukupan memupuk rasa tanggung jawab sebagai anak laki-laki. Berbagai pekerjaan serabutan pernah ia lakoni, termasuk menjadi kuli panggul di pasar. Namun, hal itu dianggapnya biasa, yang penting dapat uang halal. Purwanto tidak canggung mengingat sejak kecil sudah terbiasa bekerja. Ia pernah jualan es serta menjadi buruh di sawah. Kondisi ini selalu menghadapkannya pada situasi tanpa duit. Kesempatan unik datang lewat seorang teman. Purwanto yang masih membantu sang ayah ngelas ini, bisa berangkat ke Jepang mengikuti training kerja mengelas dan bekerja dua tahun di perusahaan pembuatan terpal di Kyushu.
Pengalaman yang amat berharga. Bahasa Kemampuan berbahasa Jepang mengantarnya melakoni pekerjaan sebagai pemandu wisatawan Jepang. Nasib mengantarnya lagi ke Jepang dan bekerja pada perusahaan pengelasan. Tahun 2001, dia pulang ke Yogyakarta. Dari hasil melanglang buana tadi, uang di kantong tetap minim. Ia pun bekerja dengan menjualkan kerajinan perak seorang perajin di Kotagede. Salah satu tempat mangkalnya adalah Malioboro. Dari sinilah, ia menimba ilmu secara otodidak. Saya banyak memerhatikan orang buat perak. Sepertinya nyaris serupa dengan pekerjaan mengelas. Bedanya hanya barang yang dilas adalah perak dan berukuran kecil, bukan besi dan berukuran besar, tutur laki-laki kelahiran Kebumen, 8 November 1973 ini.
Ia mulai berpikiran untuk membuat sendiri kerajinan perak. Kehendak dan niat yang kuat memudahkan Purwanto akhirnya mahir membuat kerajinan perak. Yang paling banyak dibikin adalah suvenir dan perhiasan, seperti gelang, kalung, dan cincin. Saya sungguh belajar cara membuat kerajinan perak dari pengalaman dan otodidak, begitu katanya. Sebuah jawaban yang barangkali sangat umum terdengar di telinga, tetapi tetap sulit dilakukan. Menurut dia, kunci utama barangkali kepepet. Purwanto mengajarkan secara tidak langsung bahwa keterampilan apa pun sebenarnya bisa dipelajari. Perkara itu nanti bisa menghasilkan uang untuk hidup atau tidak, dipikir belakangan saja. Yang penting harus ada kemauan untuk maju, walau selangkah demi selangkah. Perak kini ibarat gantungan hidup Purwanto. Karena perak yang menjalani hari-hari lebih mapan dibanding masa-masa sebelumnya....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar